Rabu, 23 Desember 2015

PUISI

  


Terbang 
karya: Fiki Rachmawati





 Bagaikan seekor burung elang
Aku terbang bebas ke awan
                     Tak ada yang bisa menghalangi
Aku terbang semakin tinggi
                  Kan kugapai semua mimpi
 

Hari Senin



HARI SENIN
karya: Nabillah Zahra

Hari ini adalah hari senin. Hari yang paling aku benci. Sebenarnya semua hari dalam seminggu aku benci, tapi hari senin adalah hari yang paling aku benci. Hari di mana semua orang merasa sok sibuk dengan aktivitas yang entah apalah itu. Begitu pula aku, sok sibuk dengan urusan kantor yang entah kapan akan berakhir.  Aku tidak tahu, hal buruk apa lagi yang akan aku dapatkan pada hari ini.
                Hari ini adalah hari senin. Seperti hari lainnya, aku selalu menanam kebencian dalam diriku. Kebencian akan orang lain, kebencian akan semua hal buruk yang ada di dunia ini. Aku benci dengan semuanya, bahkan rumah pun bukan tempat yang nyaman untukku. Kebencian yang kutanam perlahan-lahan ini akan membuatku melupakan semua kenangan itu.
                Hari itu adalah hari senin. Di mana semua kenangan itu bermula. Dua puluh tahun yang lalu, saat kedua orangtuaku tertidur pulas, aku yang berumur lima tahun sangat suka memainkan lilin. Karena menurutku lilin itu memberikan cahaya yang menarik dibanding dengan lampu kamarku. Lilin memberikanku ketenangan yang tidak aku dapatkan dari lampu kamarku. Karena perilaku polosku aku membuat kenangan yang buruk.
                Lilin yang kumainkan kutinggal di dalam kamar orangtuaku agara mereka juga merasakan ketenangan yang aku rasakan. Ternyata aku salah. api lilin itu menyambar ke selimut orangtuaku yang sedang tertidur pulas lalu menuju tubuh kedua orangtuaku. Sejak saat itu, lilin bukan lagi memberikanku ketenangan melainkam memberikanku kebencian kepada diriku sendiri.
                Hari itu adalah hari senin. Hari di mana kedua orangtuaku pergi untuk selama-lamanya. Sejak itulah kau benci akan semua hal di dunia ini. Menurutku dunia tidak pernah memberikan kebahagiaan apalagi ketenangan. Jika memikirkan itu aku mulai kesal dengan kehidupan ini. Hidupku penuh dengan kebencian.
                “Senen...senen...senen...”. teriakan kenek Metromini membuyarkan lamunanku. Aah.. sudah terlalu lama aku melamun.
                “kiri bang kirii..!” teriak salah satu penumpang yang tuajuannya sama denganku. Mengapa dia harus berteriak? Tanpa dia berteriak pun supir akan berhenti. Apa dia belum pernah naik metromini?
                Aku pun merapihkan baju dan rambutku setelah turun dari matromini. Masih harus berjalan kaki untuk sampai ke kantorku. Karena metromini yang aku naiki tidak lewat depan kantor yang jalurnya berbeda. Dari pada harus naik ojeg atau bajaj aku memutuskan untuk jalan kaki. Toh tidak terlalu jauh. Saat berjalan menuju kantor, ada suasana yang tidak seperti biasanya. seorang perempuan yang kira-kira berumur lima puluh  tahun duduk di pinggir jalan. Duduk? Bahkan dia tidak duduk, tidak juga berdiri karena dia tidak memiliki kaki dan tangan. banyak pertanyaan yang terlintas dalam pikiranku, jadi kau memutuskan untuk mengobrol dengannya sebentar.
                “permisi buu..” sapaku. “boleh ikut duduk di sini gak?” sambungku.
                “ya silahkan.. ini kan tempat umum, masa ibu melarang.” Jawabnya dengn lembut sambil tersenyum renyah.
                “terima kasih ya bu...”
                Hening...
                Aduuh mengapa tiba-tiba aku tidak bisa berkata-kata? Tadi saat melihatnya banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan.
                “eeemm.. ibu sendirian aja?” tanyaku. Pertanyaan yang tidak perlu ada jawabannya. Bodoh sekali aku ini.
                “iya sendiri. Tapi ibu lagi nunggu suami ibu. Tadi pergi mau beli makanan.” Jawabnya ramah.
                “waaah lagi kencan ya bu?” candaku.
                “yaa biasalah, hehehe”. Jawab ibu itu malu.
                “oh iya bu, kenalkan nama saya Rara. Saya kerja di kantor itu.” Kataku sambil menunjuk gedung kantor.
                “oh Rara.. kenalkan ibu Rina. Nama suami ibu Burhan.” Bahkan ibu itu memperkenalkan suaminya yang belum aku lihat.
                “waah ibu, padahal kan aku belum ketemu sama suami ibu, tapi udah dikenalin aja.” Sautku sambil tersenyum.
                Ibu itu hanya tersenyum. Sepertinya dia ingin membicarakan sesuatu tetapi urung. Keheningan pun terjadi lagi. Ya sudah, sepertinya aku tidak bisa mengetahu banyak hal dati ibu Rina ini. Saat aku akan berdiri untuk berpamitan menuju kantor..
                “kamu mau tahu kenapa ibu dari tadi selalu membicarakan suami ibu?” tanyanya kepadaku. Aku pun menjawab dengan mengangguk.
                “beliau adalah sosok pria yang sangat baik. Baik menurut ibu. Ketika dia tahu tangan dan kaki ibu sudah tidak ada, dia tidak pernah meninggalkan ibu sendirian. Malah sejak saat itu dia mulai menyayangi ibu dengan sepenuh hati. Setelah mengetahui keadaan ibu, dia memutuskan untuk meninggakan pekerjaan kantornya. Sekarang kami memiliki usaha laundry di rumah. Jadi setiap hari dia mencuci baju orang lain.” Suaranya mulai mengecil. Sepertinya bu Rina menahan tangis.
                “ibu selalu sedih jika melihat suami ibu bekera seperti itu. Sebagai istri harusnya ibu lah yang melayaninya. Mengerjakan semua pekerjaan rumah. Beliau sangat sabar. Saya pernah menyuruhnya untuk menikahi perempuan lain. Tetapi beliau menolak, karena kata beliau ibu lah wanita yang pantas menjadi istrinya. Mulai saat itu, ibu berjanji akan terus mencintai suami ibu.”
                “lalu, apakah ibu benci dengan keadaan ibu sekarang?” tanyaku penasaran.
                “tentu saja tidak. Keadaan ibu yang seperti ini, membuat ibu merasakan cinta yang sangat besar darinya. Ibu tidak pernah menyesal ataupun marah dengan Tuhan karena telah menjadikan ibu seperti ini. Karena Tuhan telah memutuskan takdir seseorang. Karena tuhan telah merencanakan kehidupan seseorang. Karena Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambaNya. Dan ibu percaya karena Tuhan telah menjadikan ibu manusia yang kuat.” Aku menangis mendengar perkataan Bu Rina.
                “ibu juga tidak pernah benci dengan anak ibu yang telah melakukan ini.”
                Melakukan ini? Apa maksudnya? Apakah ibu ini memiliki anak?
                “Ya. Anak ibulah yang melakukan semua ini. Saat itu dia sedang mabuk, memaksa meminta uang tengah malam saat suami ibu sedang Dinas ke luar kota. Karena ibu tidak memberikannya uang dia pun mengambil golok dan mematahkan kedua tangan dan kaki ibu. Setelah itu ibu tidak ingat apa-apa lagi. Tiba-tiba saja ibu ada di rumah sakit dan koma selama seminggu. Ketika sadar ibu kaget melihat tangan dan kaki sudah tak ada. Tapi suami ibu yang saat itu mendampingi berusaha menenangkan ibu dengan pelukan hangatnya”. Air mata yang ia tahan mulai membasahi pipinya.
                Aku memeluk ibu Rina, sungguh sangat kuat ibu ini. Dia tidak pernah membenci keadaannya sekarang. Dia mencintai dirinya sehingga dunia begitu indah dan menyenangkan baginya. Bagaimana dengan aku? Fisikku yang sempurna bahkan tidak bisa membuatku menghilangkan kebencian dalam diriku. Ibu Rina pun tidak membenci anaknya yang telah menghilangkan tangan dan kakinya. Sungguh hati yang sangat mulia.
                Hari ini adalah hari senin. Hari di mana aku belajar makna kehidupan. Bahwa kehidupan apapun yang kita punya harus tetap kita jalani dengan ikhlas dan bahagia. Maka dunia pun akan memberikan kebahagian untukku kita.
                Hari ini adalah hari senin. Hari di mana aku harus menghilangkan semua kebencian dalam diriku. Hari di mana bukan lagi hari yang paling aku benci melainkan hari yang paling aku sukai. Hari di mana aku harus melupakan kenangan buruk itu. Hari di mana aku tidak perlu lagi menyalahkan takdir yang telah mengambil kedua orangtuaku. Hari di mana aku harus memulia kehidupan dengan pikiran yang positif.