HARI SENIN
karya: Nabillah Zahra
Hari ini
adalah hari senin. Hari yang paling aku benci. Sebenarnya semua hari dalam
seminggu aku benci, tapi hari senin adalah hari yang paling aku benci. Hari di
mana semua orang merasa sok sibuk dengan aktivitas yang entah apalah itu.
Begitu pula aku, sok sibuk dengan urusan kantor yang entah kapan akan
berakhir. Aku tidak tahu, hal buruk apa
lagi yang akan aku dapatkan pada hari ini.
Hari
ini adalah hari senin. Seperti hari lainnya, aku selalu menanam kebencian dalam
diriku. Kebencian akan orang lain, kebencian akan semua hal buruk yang ada di
dunia ini. Aku benci dengan semuanya, bahkan rumah pun bukan tempat yang nyaman
untukku. Kebencian yang kutanam perlahan-lahan ini akan membuatku melupakan
semua kenangan itu.
Hari
itu adalah hari senin. Di mana semua kenangan itu bermula. Dua puluh tahun yang
lalu, saat kedua orangtuaku tertidur pulas, aku yang berumur lima tahun sangat
suka memainkan lilin. Karena menurutku lilin itu memberikan cahaya yang menarik
dibanding dengan lampu kamarku. Lilin memberikanku ketenangan yang tidak aku
dapatkan dari lampu kamarku. Karena perilaku polosku aku membuat kenangan yang
buruk.
Lilin
yang kumainkan kutinggal di dalam kamar orangtuaku agara mereka juga merasakan
ketenangan yang aku rasakan. Ternyata aku salah. api lilin itu menyambar ke
selimut orangtuaku yang sedang tertidur pulas lalu menuju tubuh kedua
orangtuaku. Sejak saat itu, lilin bukan lagi memberikanku ketenangan melainkam
memberikanku kebencian kepada diriku sendiri.
Hari
itu adalah hari senin. Hari di mana kedua orangtuaku pergi untuk
selama-lamanya. Sejak itulah kau benci akan semua hal di dunia ini. Menurutku
dunia tidak pernah memberikan kebahagiaan apalagi ketenangan. Jika memikirkan
itu aku mulai kesal dengan kehidupan ini. Hidupku penuh dengan kebencian.
“Senen...senen...senen...”.
teriakan kenek Metromini membuyarkan lamunanku. Aah.. sudah terlalu lama aku
melamun.
“kiri
bang kirii..!” teriak salah satu penumpang yang tuajuannya sama denganku.
Mengapa dia harus berteriak? Tanpa dia berteriak pun supir akan berhenti. Apa
dia belum pernah naik metromini?
Aku
pun merapihkan baju dan rambutku setelah turun dari matromini. Masih harus
berjalan kaki untuk sampai ke kantorku. Karena metromini yang aku naiki tidak
lewat depan kantor yang jalurnya berbeda. Dari pada harus naik ojeg atau bajaj
aku memutuskan untuk jalan kaki. Toh tidak terlalu jauh. Saat berjalan menuju
kantor, ada suasana yang tidak seperti biasanya. seorang perempuan yang
kira-kira berumur lima puluh tahun duduk
di pinggir jalan. Duduk? Bahkan dia tidak duduk, tidak juga berdiri karena dia
tidak memiliki kaki dan tangan. banyak pertanyaan yang terlintas dalam
pikiranku, jadi kau memutuskan untuk mengobrol dengannya sebentar.
“permisi
buu..” sapaku. “boleh ikut duduk di sini gak?” sambungku.
“ya
silahkan.. ini kan tempat umum, masa ibu melarang.” Jawabnya dengn lembut
sambil tersenyum renyah.
“terima
kasih ya bu...”
Hening...
Aduuh
mengapa tiba-tiba aku tidak bisa berkata-kata? Tadi saat melihatnya banyak
sekali hal yang ingin aku tanyakan.
“eeemm..
ibu sendirian aja?” tanyaku. Pertanyaan yang tidak perlu ada jawabannya. Bodoh
sekali aku ini.
“iya
sendiri. Tapi ibu lagi nunggu suami ibu. Tadi pergi mau beli makanan.” Jawabnya
ramah.
“waaah
lagi kencan ya bu?” candaku.
“yaa
biasalah, hehehe”. Jawab ibu itu malu.
“oh
iya bu, kenalkan nama saya Rara. Saya kerja di kantor itu.” Kataku sambil
menunjuk gedung kantor.
“oh
Rara.. kenalkan ibu Rina. Nama suami ibu Burhan.” Bahkan ibu itu memperkenalkan
suaminya yang belum aku lihat.
“waah
ibu, padahal kan aku belum ketemu sama suami ibu, tapi udah dikenalin aja.”
Sautku sambil tersenyum.
Ibu
itu hanya tersenyum. Sepertinya dia ingin membicarakan sesuatu tetapi urung.
Keheningan pun terjadi lagi. Ya sudah, sepertinya aku tidak bisa mengetahu
banyak hal dati ibu Rina ini. Saat aku akan berdiri untuk berpamitan menuju
kantor..
“kamu
mau tahu kenapa ibu dari tadi selalu membicarakan suami ibu?” tanyanya
kepadaku. Aku pun menjawab dengan mengangguk.
“beliau
adalah sosok pria yang sangat baik. Baik menurut ibu. Ketika dia tahu tangan
dan kaki ibu sudah tidak ada, dia tidak pernah meninggalkan ibu sendirian.
Malah sejak saat itu dia mulai menyayangi ibu dengan sepenuh hati. Setelah
mengetahui keadaan ibu, dia memutuskan untuk meninggakan pekerjaan kantornya.
Sekarang kami memiliki usaha laundry di rumah. Jadi setiap hari dia mencuci
baju orang lain.” Suaranya mulai mengecil. Sepertinya bu Rina menahan tangis.
“ibu
selalu sedih jika melihat suami ibu bekera seperti itu. Sebagai istri harusnya
ibu lah yang melayaninya. Mengerjakan semua pekerjaan rumah. Beliau sangat
sabar. Saya pernah menyuruhnya untuk menikahi perempuan lain. Tetapi beliau
menolak, karena kata beliau ibu lah wanita yang pantas menjadi istrinya. Mulai
saat itu, ibu berjanji akan terus mencintai suami ibu.”
“lalu,
apakah ibu benci dengan keadaan ibu sekarang?” tanyaku penasaran.
“tentu
saja tidak. Keadaan ibu yang seperti ini, membuat ibu merasakan cinta yang
sangat besar darinya. Ibu tidak pernah menyesal ataupun marah dengan Tuhan
karena telah menjadikan ibu seperti ini. Karena Tuhan telah memutuskan takdir
seseorang. Karena tuhan telah merencanakan kehidupan seseorang. Karena Tuhan
tidak akan pernah memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambaNya. Dan ibu
percaya karena Tuhan telah menjadikan ibu manusia yang kuat.” Aku menangis
mendengar perkataan Bu Rina.
“ibu
juga tidak pernah benci dengan anak ibu yang telah melakukan ini.”
Melakukan
ini? Apa maksudnya? Apakah ibu ini memiliki anak?
“Ya.
Anak ibulah yang melakukan semua ini. Saat itu dia sedang mabuk, memaksa
meminta uang tengah malam saat suami ibu sedang Dinas ke luar kota. Karena ibu
tidak memberikannya uang dia pun mengambil golok dan mematahkan kedua tangan
dan kaki ibu. Setelah itu ibu tidak ingat apa-apa lagi. Tiba-tiba saja ibu ada
di rumah sakit dan koma selama seminggu. Ketika sadar ibu kaget melihat tangan
dan kaki sudah tak ada. Tapi suami ibu yang saat itu mendampingi berusaha
menenangkan ibu dengan pelukan hangatnya”. Air mata yang ia tahan mulai
membasahi pipinya.
Aku
memeluk ibu Rina, sungguh sangat kuat ibu ini. Dia tidak pernah membenci
keadaannya sekarang. Dia mencintai dirinya sehingga dunia begitu indah dan
menyenangkan baginya. Bagaimana dengan aku? Fisikku yang sempurna bahkan tidak
bisa membuatku menghilangkan kebencian dalam diriku. Ibu Rina pun tidak
membenci anaknya yang telah menghilangkan tangan dan kakinya. Sungguh hati yang
sangat mulia.
Hari
ini adalah hari senin. Hari di mana aku belajar makna kehidupan. Bahwa
kehidupan apapun yang kita punya harus tetap kita jalani dengan ikhlas dan
bahagia. Maka dunia pun akan memberikan kebahagian untukku kita.
Hari
ini adalah hari senin. Hari di mana aku harus menghilangkan semua kebencian
dalam diriku. Hari di mana bukan lagi hari yang paling aku benci melainkan hari
yang paling aku sukai. Hari di mana aku harus melupakan kenangan buruk itu.
Hari di mana aku tidak perlu lagi menyalahkan takdir yang telah mengambil kedua
orangtuaku. Hari di mana aku harus memulia kehidupan dengan pikiran yang
positif.